Cari Artikel Disini

13 Februari 2016

AJARAN POKOK MU'TAZILAH (1): AT-TAUHID (KEESAAN TUHAN)



At Tauhid adalah dasar aqidah Islam yang pokok dan utama. Sebenarnya Tauhid bukanlah ciptaan Mu'tazilah, tetapi karena mereka menafsirkan dan mempertahankannya sedemikian rupa, maka mereka dipertalikan dengan prinsip at-Tauhid (Keesaan) dan terkenal dengan sebutan Ahlu Tauhid.
Imam Al Asy’ari dalam kitabnya: Maqalat al Islamiyyin, menyebutkan pengertian Tauhid menurut Mu'tazilah sebagai berikut:
Allah itu Esa, tidak ada yang menyamai-Nya, bukan jisim (benda) bukan pribadi (syahs), bukan jauhar (substansi), bukan aradl (non-essential property), tidak berlaku padanya masa. Tiada tempat baginya, tiada bisa disifati dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk yang menunjukkan ketidak azaliannya, tiada batas bagi-Nya, tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, tidak dapat dilihat dengan mata kepala dan tidak bisa digambarkan dengan akal pikiran. Ia Maha mengetahui, Yang Berkuasa dan Yang Hidup. Hanya Ia sendiri Yang Qodim, tiada yang Qodim selain-Nya, tiada pembantu bagi-Nya dalam menciptakan.
Apabila kita perhatikan uraian di atas, maka akan tampak jelas bahwa pikiran-pikiran Mu'tazilah mengambil istilah-istilah filsafat seperti syahs, jauhar, aradl, teladan (contoh/idea) dan sebagainya. Prinsip Tauhid ini dipertahankan dan diberi argumentasi sedemikian rupa, sehingga betul-betul murni. Oleh karena itu sebagai kelanjutan daripada prinsip ini maka mereka berpendapat pula:
a.       Tidak mengakui sifat-sifat Tuhan sebagai suatu yang qodim, yang lain dari zat-Nya. Menurut mereka apa yang disebut sifat Tuhan tidak dapat dipisahkan dari Tuhan sendiri. Allah itu tahu sama dengan Allah itu berkuasa, sama saja Allah itu hidup, sama saja Allah itu mendengar dan melihat dan akhirnya sama saja dengan Allah itu ada.
Mereka berpendapat bahwa keabadian adalah sifat yang membedakan zat Ilahi, bahwa Tuhan adalah Abadi/Qodim, karena keabadian adalah sifat-Nya yang khas. Tuhan tidak mempunyai sifat, yang ada hanyalah zat, tapi bukan berarti menafikan sifat Tuhan, tetapi sifat itu bukan sifat zat, sebab kalau demikian akan terjadi “muta’addidul qudama” berbilangnya yang qodim. Oleh sebab itu Mu'tazilah diberi gelar golongan mu’attilah, yang mengosongkan, meniadakan sifat-sifat Tuhan. Namun pengikut-pengikut Washil bin Atha’ menetapkan dua sifat pokok bagi Tuhan yaitu: ilmu dan qudrat, itupun bukan sifat tetapi keadaan (haal).
b.      Mengingkari pendapat yang mengatakan adanya arah bagi Tuhan, dan menakwilkan ayat-ayat yang mempunyai kesan adanya persamaan Tuhan dengan makhluk-Nya (antromorphisme/musyabbihah). Mereka melarang memberikan sifat bagi Tuhan dengan sifat keadaan, baik dengan jalan jurusan, tempat, rupa atau badan maupun dengan jalan perubahan, berhenti, bergerak atau melarut. Dalam tafsiran mereka mengenai ayat-ayat Al-Qur’an yang mempergunakan sifat, mereka pahami dalam arti kiasan dan bukannya dalam arti harfiah.
c.       Mengingkari bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala. Karena orang yang bertanya di mana adanya Tuhan, menyamakannya dengan sesuatu. Tuhan adalah Pencipta, bukan karena Ia sendiri dicipta, Tuhan ada bukan karena sebelumnya Ia tiada, Ia ada bersama tiap benda, bukan karena serupa atau dekat. Ia di luar segala, bukan karena terpisah. Ia adalah sebab utama, bukan dalam arti bergerak bertindak. Ia adalah melihat tetapi orang tidak dapat melihat-Nya. Ia tidak berhubungan dengan tempat, waktu dan tidak mempunyai dimensi.
d.      Dengan Keesaan yang mutlak, mereka menolak konsepsi-konsepsi dualisme maupun trinitas tentang Tuhan,
Meskipun prinsip Tauhid diakui oleh seluruh umat Islam, namun ajaran ini oleh Mu'tazilah mendapat penekanan khusus. Ayat yang dipegangi antara lain Al-Qur’an surat As-Syuraa ayat 11:
“Tidak ada seseuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (As-Syuraa:11)

Ayat yang menunjukkan Tuhan berjisim dita’wilkan seperti dalam surat Al-Fath: 10:
“Tangan Allah di atas tangan mereka”.

Ayat yang menunjukkan Tuhan bertempat, seperti dalam surat Al-A’raf : 54 :
“Dia bersemayam di atas Arsy”.
Ayat yang menunjukkan Tuhan punya tangan, tangan di sini diartikan kekuasaan dan dalam ayat yang menunjukkan Tuhan bertempat dalam Arsy’ diartikan bahwa Tuhan menguasai dan sebagainya. Alasan Mu'tazilah menta’wilkan ayat-ayat tersebut, karena apabila diartikan secara harfiah tidak masuk akal dan bertentangan dengan ayat yang lain serta akan mengurangi kesucian Tuhan sendiri. Oleh sebab itu di dalam menjabarkan Tuhan Yang Maha Esa ini mensifatinya dengan sifat-sifat salbiyah (negatif) seperti tidak berjisim, tidak berarah, tidak berupa, tidak   dan sebagainya yang pada prinsipnya tidak sama dengan sifat makhluk.
Berikut ini dikemukakan contoh jalan pikiran Mu'tazilah di dalam usaha memurnikan Tuhan atau mensucikan-Nya seperti masalah melihat Tuhan. Dikatakan bahwa Tuhan tidak berjisim, maka juga tidak berarah. Jika Tuhan tidak berarah, maka manusia tidak dapat melihat-Nya karena setiap sesuatu yang dapat dilihat itu pasti berada pada suatu tempat atau arah, disamping dibutuhkan beberapa syarat seperti adanya cahaya, warna dan sebagainya, dan yang demikian itu mustahil bagi Allah.
Argumen di atas diperkuat dengan dalil ayat Al-Qur’an surat al-An’am ayat 103 yang menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala.
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Pendapat tersebut banyak mendapat tantangan dengan menunjuk dalil naqli juga, yaitu dengan menggunakan ayat yang menceritakan nabi Musa mohon kepada Tuhan agar dapat melihat-Nya. Seandainya hal itu tidak mungkin, maka mengapa Nabi Musa memintanya? Mu'tazilah menjawab bahwa permohonan itu atas desakan dari kaumnya yang tidak dapat ditawar lagi, bukan permohonan Nabi Musa.
Semua ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan prinsip tanzil, penyucian dan permulaan di mana Tuhan mustahil bersifat sebagaimana sifat makhluk-Nya, harus ditolak dan pengertiannya harus dita’wilkan. Hadits sebagai penjelas Al-Qur’an diterima hanya yang mutawatir saja yang menghasilkan ilmu yakin, mengingat ini masalah keyakinan keimanan, sedang hadits yang menerangkan Tuhan dapat dilihat harus ditolak karena itu hadits ahad.
Di samping pensifatan Tuhan dengan sifat salbiyah (negatif), Mu'tazilah juga menetapkan sifat ma’ani (positif) bagi Tuhan seperti sifat Ilmu, Hayyun, Qudrat, Iradrat, Sama’, Bashar, dan Kalam yang kesemuanya sifat tersebut tidak terpisah dengan zat-Nya. Sebab kalau terpisah atau berdiri sendiri berarti ada dua kekekalan, “ta’addudul qudama”, berarti Tuhan berbilang, hal ini merupakan suatu yang mustahil bagi Tuhan.
Tentang sifat Ilmu, Qudrat, dan Iradat Tuhan, tidak akan berubah karena adanya perubahan. Ilmu adalah terbukanya sesuatu sesuai dengan keadaannya. Pengertian ini mengandung konsekuensi daripada perubahan itu. Bahwa perubahan itu menurut pandangan manusia, di mana di dalam mengetahui sesuatu dengan alat pancaindera dan sangat bergantung dengan beberapa kondisi. Akan tetapi bagi Tuhan tidak ada bedanya, sebab adanya atau tidak adanya sesuatu tidak akan berpengaruh bagi Tuhan. Tuhan mengetahui dengan zat-Nya terhadap sesuatu yang telah dan akan ada dengan ilmu yang satu, sedang perubahan itu tergantung kepada tempat dan waktu.
Dari pendirian di atas timbul persoalan baru, seperti mengenai kekuasaan-Nya. Sehubungan dengan kekuasaan Tuhan yang mutlak, maka apakah Dia kuasa untuk menyiksa, merusak surga atau neraka bersama penghuninya atau mematikan mereka setelah ditentukan keadilan-Nya atau berkuasakah untuk meninggalkan sesuatu yang diketahui kebaikannya.
Problema di atas dijawab oleh An-Nadzam, seorang tokoh Mu'tazilah bahwa Tuhan tidak berkuasa untuk berbuat aniaya (dhalim) sebab perbuatan dhalim hanya akan dilakukan oleh yang membutuhkan obyek untuk pelampiasan nafsu atau tidak mengerti akibat buruk daripada perbuatan dhalimnya itu. Tuhan berkuasa untuk merusak surga atau neraka serta penghuninya setelah dipastikan keadilannya karena mereka tidak mungkin hidup abadi tanpa batas. Bahwa penganiayaan atau perbuatan dhalim hanya akan terjadi bagi yang bersifat dengki, hasud, tanpa belas kasih. Maha Suci Tuhan daripada sifat dhalim serupa itu. 
Poskan Komentar

SEJARAH LAHIRNYA MU'TAZILAH

Peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan, khalifah ketiga, pada 666 M, di Madinah dalam pertentangan yang terjadi dengan tentara yang dat...

Daftar Blog Saya

Google+ Followers

Join this Site