2 April 2009

PEMIKIRAN FILUSUF MUSLIM TENTANG PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN

Seorang filosof yang lahir dan di besarkan dalam keluarga muslim akan di namakan seorang muslim, akan tetapi pandangan dan kepercayaannya mungkin saja bid’ah inilah yang di sebut dengan “filusuf muslim”. Filusuf Islam adalah orang yang mengambil inspirasinya dari al-Qur’an dan sunah, serta pandangan-pandangan filsafatnya sesuai sepenuhnya dengan pandangan-pandangan yang di uraikan dalam al-Qur’an dan sunah tersebut.

Filusuf Muslim lahir berkat masuknya pemikiran Yunani kedalam pemikiran Arab. Hanya melalui penerjemahan pengetahuan Yunani kedalam Bahasa Arablah kaum muslim di rangsang dan di paksa berfikir, oleh karena itu banyak ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui karya-karya itu. Adapun karya-karya itu bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam.

Para filusuf muslim membedakan antara ilmu yang berguna dan ilmu yang tak berguna dan kedalam ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu duniawi. Adapun tujuan para filusuf muslim adalah untuk memberikan kepada dunia suatu saran akan tetapi kesatuan kosmos yang tidak hanya memuaskan pikiran akan tetapi juga perasaan keagamaan.[1]


II. PEMBAHASAN

Pada pemaparan makalah ini akan membahas para filusuf muslim mengenai pendidikannya. Adapun para filusuf muslim itu adalah :

1. Al-Ghazali

Nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di Thus tahun 450 H/ 1058 M.[2]

Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang di sampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia yang sempurna.

Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan menusia lain adalah bodoh dan tak bermoral.[3]

Konsep pendidikan al-Ghazali :

a. Tujuan pendidikan

Ada 2 tujuan yang ingin dicapai melalui pendidikan

- Tercapainya kesempurnaan insani bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.

- Kesempurnaan insani yangg bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

b. Kurikulum

Menurutnya ilmu yang paling utama adalah ilmu agama dengan segala cabangnya, karena ia hanya dapat dikuasai melalui akal yang sempurna dan daya tangkap yang jernih. Dalam kurikulum al-Ghazali mementingkan sisi yang faktual dalam kehidupan, sisi budaya.

c. Metode pengajaran

Berdasarkan prinsip yang mengatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat antara 2 pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan demikian faktor keteladanan yang utama menjadi bagian metode pengajaran yang amat penting.

d. Kriteria seorang guru yang baik

Menurutnya bahwa guru yang dapat diserahi tugas mengajar adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya, serta mempunyai rasa kasih sayang.

2. Ibnu Sina

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370/980 - 428/1037), dalam banyak hal unik selang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci yaitu suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama beberapa abad.[4]

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Huseyn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Siena. Lahir di dalam masa kekacauan pada bulan Safar 370 H / Agustus 910 M di desa Afshanah dekat kota Kharmaitan, kabupaten Baikh, wilayah Afganistan propinsi Bukhara (Rusia). Ibunya bernama Asfarah, ayahnya Abdullah seorang gubernur dari suatu distik di Bukhara pada masa Samaniyyah-Nuh II bin Mansur.[5]

Sejarah mencatat bahwa Ibnu Sina memulai pendidikannya kali pertama kali dipelajari adalah membaca al-Qur’an. Konsep pendidikan Ibn Sina :[6]

a. Tujuan pendidikan

Menurutnya harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna yaitu perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti. Selain itu juga diupayakan untuk mempersiapkan seseorang agar dapat hidup di masyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecenderungan, dan potensi yang dimiliki. Melalui pendidikan jasmani, seorang anak diarahkan agar terbuka pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedang pendidikan budi pekerti diharapkan seorang anak memilki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkatkan daya khayalnya membetuk manusia menjadi insan kamil yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh.

b. Kurikulum

Konsep kurikulumnya didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik, misalnya usia 3 – 5 tahun diberi mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, kesenian, untuk usia 6 – 14 tahun mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-Qur’an, palajaran agama, pelajaran syair, pelajaran olahraga.

Ciri konsep kurikulum Ibnu Sina :

- Tidak hanya terbatas pada sekedar sejumlah mata pelajaran, melainkan disertai dengan penjelasan tentang tujuan dari mata pelajaran, dan kapan mata pelajaran itu harus diajarkan.

- Didasarkan pada pemikiran yang bersifat pragmatis fungsional, yakni dengan melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari dengan tuntutan masyarakat.

- Dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya.

c. Metode pengajaran

Metode yang ditawarkan : metode talqin, demonstrasi, pembiasaan, teladan, diskusi.

d. Konsep guru

Konsep guru yang ditawarkan adalah tentang guru yang baik, dimana guru yang baik adalah guru yang berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akhlak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, tidak bermuka masam, sopan santun, bersih dan suci murni.

e. Konsep hukuman dalam pengajaran

Hukuman hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal.

3. Ibnu Taimiyah[7]

Nama lengkapnya Taqiyuddin Ahmad bin Abd al-Halim bin Taimiyah, lahir di kota Harran, hari senin, 10 Rabiul Awal 661 H / 22 Januari 1263 M.

Konsep pendidikannya :

a. Falsafah pendidikan

Dasar yang digunakan adalah ilmu yang bermanfaat sebagai asas bagi kehidupan yang cerdas dan unggul, dengan ilmu pengetahuan seseorang dapat mengenal Allah, beribadah, memuji dan meng-Esakan-Nya, dapat juga diangkat derajatnya dan menjadi ummat yang kokoh.

b. Tujuan pendidikan

- Tujuan individual

Diarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang baik yaitu seseorang yang berfikir, merasa dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu dengan apa yang diperintahkan al-Qur’an dan as-Sunah.

- Tujuan sosial

Diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan al-Qur’an dan as-Sunah.

- Tujuan da’wah Islamiyah

Mengarahkan umat agar siap dan mampu memikul tugas da’wah Islamiyah ke seluruh dunia.

c. Kurikulum

Kurikulum yang utama yang harus diberikan kepada anak didik adalah mengajarkan putra-putri kaum muslimin sesuai dengan yang diajarkan Allah kepadanya, dan mendidik agar selalu patuh dan tunduk kepada Allah dan Rasulnya.

d. Bahasa pengantar dalam pengajaran

Mewajibkan penggunaan bahasa Arab dalam pengajaran dan percakapan karena bahasa Arab merupakan bahasa yang mulia.

e. Metode pengajaran

Metode yang digunakan adalah ilmiyah dan metode iradah. Pemikirannya bahwa hati merupakan alat untuk belajar, hatinya yang mengendalikan anggota badan dan mengarahkan jalannya.


III. KESIMPULAN

Memang ketika kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan pasti tidak lepas dari akal karena melalui akal pikiranlah suatu ilmu pengetahuan itu dimunculkan, akan tetapi semua itu tidak terlepas dari faktor lingkupnya tempat dimana dia berada.

Masing-masing pemikirannya berbeda-beda antara filusuf yang satu dengan filusuf yang lainnya. Akan tetapi pada intinya adalah satu yaitu menuju kearah perkembangan ilmu pengetahuan.

Setelah melihat uraian yang ada di atas, dapat sisimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang tidak luput dari ilmu pengetahuan yang tumbuh melalui akal pikiran sehingga tercapai sesuatu yang diinginkan dan tidak mengandalkan dari keturunannya untuk dapat meraih cita-citanya dengan pemikirannya itu misalnya Ibnu Sina menemukan ilmu kedokterannya.




DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Dasoeki, Thawil, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993.

Ibn Rush, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993.

___________, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Qadir, C. A., Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991.

Syarif, M. M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996.



[1] C. A Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, hlm.15

[2] Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993, hlm.95

[3] Abidin Ibn Rush, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm.53

[4] M. M. Syarif, Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996, hlm.11

[5] Thawil, Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993, hlm.34

[6] Dr. H. Abudin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hlm.67

[7] ibid, hlm.129

Share:

1 April 2009

PEMIKIRAN FILUSUF MUSLIM ABAD PERTENGAHAN

I. PENDAHULUAN

Seorang filosof yang lahir dan di besarkan dalam keluarga muslim akan dinamakan seorang muslim, akan tetapi pandangan dan kepercayaannya mungkin saja Bid’ah, inilah yang disebut dengan “Filusuf Muslim”. Filusuf Islam adalah orang yang mengambil inspirasinya dari al-Qur’an dan Sunnah, serta pandangan-pandangan filsafatnya sesuai sepenuhnya dengan pandangan-pandangan yang diuraikan didalam al-Qur’an dan Sunnah tersebut.

Filusuf Muslim lahir berkat masuknya pemikiran Yunani ke dalam permikiran Arab, hanya melalui penerjemahan pengetahuan Yunani ke dalam bahasa kaum muslim dirangsang dan dipaksa untuk berfikir. Oleh karena itu banyak ajaran dan kepercayaan yang sampai kepada bangsa Arab melalui karya-karya itu. Adapun karya-karya itu bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam.

Para filusuf muslim membedakan antara ilmu yang berguna dan ilmu yang tak berguna dan kedalam ilmu yang berguna mereka memasukkan ilmu-ilmu duniawi.

Adapun tujuan para filusuf muslim adalah untuk memberikan kepada dunia suatu teori lengkap mengenai kesatuan kosmos yang tidak hanya memuaskan akal pikiran, akan tetapi juga perasaan keagamaan.[1]

II. PEMBAHASAN

Adapun para filusuf muslim itu adalah : pada pemaparan makalah ini kami akan membahas beberapa para filusuf muslim abad pertengahan.

a. Al-Ghazali

Nama aslinya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali. Ia lahir di Thus tahun 450 H / 1058 M.[2]

Pemikiran al-Ghazali mengenai pendidikan adalah proses memanusiakan manusia sejak kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran tersebut menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah, sehingga menjadi manusia yang sempurna.

Batas awal berlangsungnya pendidikan menurutnya sejak bersatunya sperma dan ovum sebagai awal kejadian manusia. Sedangkan batas akhir pendidikan itu orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu berserikat pada kebajikan dan manusia lain adalah bodoh dan tak bermoral.[3]

b. Ibnu Khaldun

Nama lengkapnya Abdurrahman Abu Zain Waliuddin bin Muhammad bin Khaldun al-Maliki, dilahirkan di kota Tunnisia pada awal Ramadhan tahun 732 H / 27 Mei 1333 M.[4]

Dasar sejarah filsafatnya adalah :

1. Hukum sebab akibat yang menyatakan bawa semua peristiwa, termasuk peristiwa sejarah, berkaitan satu sama lain dalam suatu rangkaian hubungan sebab akibat.

2. Bahwa kebenaran bukti sejarah tidak hanya tergantung kepada kejujuran pembawa cerita saja akan tetapi juga kepada tabiat zaman.

Karena hal ini para cendekiawan memberinya gelar dan titel berdasarkan tugas dan karyanya serta keaktifannya di bidang ilmiah, yaitu :[5]

1. Sarjana dan filosof besar 6. Ahli Hukum

2. Ulama Islam 7. Politikus

3. Sosiolog 8. Sastrawan Arab

4. Pedagang 9. Administrator dan organisator

5. Ahli sejarah

c. Sayyid Ahmad Khan

Dia adalah seorang pendekar besar nasionalisme dan ia berpendapat bahwa Islam adalah agama akal. Ia menolak segala hal dalam agama yang bertentangan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang sudah terbukti kebenarannya.[6]

Pada waktu itu golongan muslim menolak belajar bahasa Inggris, dan mereka menganggap sebagai murtad untuk belajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang didirikan oleh bangsa Inggris. Sehingga pendidikan mereka jauh tertinggal dari golongan Hindu yang memenuhi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Inggris dan mengejar pengetahuan modern dengan penuh semangat.

Maka dengan adanya hal itu Ahmad Khan punya tugas yang sulit yaitu :

1. Ia harus meyakinkan bangsa Inggris bahwa golongan muslim itu tidak loyal

2. Ia harus membujuk golongan muslim agar belajar bahasa Inggris dan melengkapi dirinya dengan pengetahuan modern

Dengan tugas ini maka ia berusaha menghilangkan antipati golongan muslim terhadap bahasa Inggris dan pengetahuan modern melalui pidatonya dan dengan jalan mendirikan Aligarh School yang menjadi Aligarh University.

d. Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash‘ats bin Qais al-Kindi. Ia seorang filosof muslim yang pertama. Kindah adalah salah satu suku Arab yang besar pra-Islam. Kakeknya Al-Ash’ats ibn Qais, memeluk Islam dan dianggap sebagai salah seorang sahabat Nabi SAW. Al-Ash’ats bersama beberapa perintis muslim pergi ke kufah, tempat ia dan keturunannya mukim. Ayahnya adalah Ishaq al-Sabbah menjadi gubernur Kufah selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Basyid. Kemungkinan besar al-Kindi lahir pada tahun 185 H / 801 M.[7] Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berderajat tinggi, kaya akan kebudayaan dan terhormat. Ia tidak tertarik unutk menjadi politikus dam prajurit – meneruskan jejak ayahnya – tetapi panggilan ilmu pengetahuan menyedotnya hingga ia pindah ke Kufah dan Basrah – pusat ilmu pengetahuan – dan Baghdad.

Menurut al-Kindi filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam, oleh karena itu para sejarawan Arab awal menyebutnya “filosof Arab”. Menurutnya batasan filsafat yang ia tuangkan dalam risalahnya tentang filsafat awal adalah “filsafat” adalah pengetahuan tentang hakekat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran dan dalam prakteknya ialah menyesuaikan dengan kebenaran.

e. Al-Farabi

Nama lengkapnya Abu Nash al-Farabi, lahir pada tahun 258 H / 870 M di Farab, meninggal pada tahun 339 H / 950 M. Sejarah mencatatnya sebagai pembangun agung sistem filsafat, dimana ia telah membaktikan diri untuk berfikir dan merenung, menjauh dari kegiatan politik, gangguan dan kekisruhan masyarakat.[8]

Al-Farabi adalah seorang yang logis baik dalam pemikiran, pernyataan, argumentasi, diskosi, keterangan dan penalarannya.

Unsur-unsur penting filsafatnya adalah :

1. Logika

2. Kesatuan filsafat

3. Teori sepuluh kecerdasan

4. Teori tentang akal

5. Teori tentang kenabian

6. Penafsiran atas al-Qur’an.

f. Ibnu Sina

Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina (370/980 – 428/1037), dalam banyak hal unik sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci – suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim selama beberapa abad.[9]

Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Huseyn bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Siena. Ia lahir didalam masa kekacauan pada bulan Safar 370 H / Agustus 910 M didesa Afshanah dekat kota Kharmaitan, kabupaten baikh, wilayah Afghanistan Propinsi Bukhara (Rusia) ibunya bernama Asfarah, ayahnya Abdullah seorang gubernur dari suatu distrik di Bukhara pada masa Samaniyyah – Nuh II bin Mansur.[10]

III. ANALISIS

Dari pemaparan makalah diatas, saya sedikit dapat menganalisa tentang berbagai pemikiran-pemikiran para filusuf muslim. Sebenarnya pemikiran dari beberapa filusuf muslim yang saya contohkan diatas kebanyakan dari mereka membahas mengenai ilmu pengetahuan.

Memang ketika kita berbicara mengenai ilmu pengetahuan pasti tidak lepas dari akal, karena melalui akal pikiranlah suatu ilmu pengetahuan itu dimunculkan, akan tetapi semua itu tidak terlepas dari faktor lingkungan tempat dimana dia berada.

Masing-masing pemikirannya berbeda-bedaantara filusuf yang satu dengan filusuf yang lainnya. Akan tetapi pada intinya adalah satu yaitu menuju ke arah perkembangan ilmu pengetahuan.

IV. KESIMPULAN

Setelah melihat uraian yang ada diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yang tidak luput dari ilmu pengetahuan yang tumbuh melalui akal pikiran, sehingga tercapai sesuatu yang diinginkan dan tidak mengandalkan dari keturunannya untuk dapat meraih cita-citanya. Dengan pemikirannya itu misalnya Ibnu Sina menemukan ilmu kedokterannya.


DAFTAR PUSTAKA

Akhyar Dasoeki, Thawil, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993.

Chabib Thoha, M. dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996.

Ibnu Rush, Abidin, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.

Nata, Abudin, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993.

Qadir, C. A., filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991.

Syarif, M. M., Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996.



[1] C. A Qadir, filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1991, hlm 15.

[2] Abudin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Rajawali Pers, Jakarta, 1993, hlm 95.

[3] Abidin ibn Rush, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998, hlm 53.

[4] Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam, Toha Putra, Semarang, 1993, hlm 97.

[5] Ibid, hlm 99.

[6] M. Chabib Thoha, dkk., Reformasi Filsafat Pendidikan Islam¸ Pustaka Pelajar, Semarang, 1996.

[7] M. M Syarif, Para Filosof Muslim, Mizan, Bandung, 1996, hlm 11.

[8] Ibid, hlm 15.

[9] Ibid, hlm 43.

[10] Thawil Akhyar Dasoeki, Op.Cit., hlm 34.

Share:

Google+

Diberdayakan oleh Blogger.